Rabu, 07 September 2011

Taubat dan Pengertiannya


       Secara bahasa kata al-taubah berasal dari kata bahasa Arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali.[1] Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang disertai dengan melakukan amal kebajikan. Harun Nasution, mengatakan taubat yang dimaksud sufi ialah taubat yang sebenarnya, taubat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi.[2] Untuk mencapai taubat yang sesungguhnya dan dirasakan diterima oleh Allah terkadang tidak dapat dicapai satu kali saja. Ada kisah yang mengatakan bahwa seorang sufi sampai tujuh puluh kali taubat, baru ia mencapai tingkat taubat yang sesungguhnya. Taubat yang sebenarnya dalam paham sufisme adalah lupa pada segala hal kecuali Tuhan. Orang yang taubat adalah orang yang cinta pada Allah, dan orang yang demikian senantiasa mengadakan kontemplasi tentang Allah.[3]

            Selanjutnya dalam bukunya, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Mustafa Zahri menyebut taubat berbarengan dengan istighfar (memohon ampun). Bagi orang awam taubat cukup dengan membaca astaghfir Allah wa atubu ilaihi (Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya) sebanyak 70 kali sehari semalam. Sedangkan bagi orang khawas bertaubat dengan mengadakan riadah (latihan) dan mujahadah (perjuangan) dalam usaha membuka hijab (tabir) yang membatasi diri dengan Tuhan.[4]
            Dalam al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menganjurkan manusia agar bertaubat. Di antaranya ayat yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا الله فَاسْتَغْفِرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ

   “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.”[5]

وَتُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

   “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”[6]


[1] Lihat Mahmud Yunus. Kamus Arab … hal. 79.
[2] Harun Nasution. Falsafat dan … hal. 67.
[3] Ibid.
[4] Mustafa Zahri. Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. (Surabaya: Bina Ilmu. 1995). Cetakan I. hal. 105-106.
[5] Q.S. Ali ‘Imran, [3]: 135.
[6] Q.S. al-Nur, [24]: 31.

Tidak ada komentar: