Rabu, 07 September 2011

Pengertian dan Tujuan Tasawuf


         Secara lughat, kata tasawuf berasal dari bermacam-macam kata sebagaimana dikemukakan antara lain oleh Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern sebagai berikut: kata tasawuf berasal dari kata shifa yang berarti suci bersih; dari kata shuf yang artinya bulu binatang; dari kata shufah yang berarti golongan shahabat Nabi yang menyisihkan dirinya di suatu tempat terpencil di samping masjid Nabi. Kata setengahnya berasal dari kata shufanah yang artinya sebangsa kayu mersik yang tumbuh dipadang pasir tanah Arab. Dapat pula berasal dari kata shaf yang berarti barisan dikala sembahyang. Kesemuanya pengertian secara etimologis ini mempunyai arti yang dekat kepada apa yang dimaksud dengan tasawuf.

            Apabila kita perhatikan dari bentuk bahasa Arab. Maka kata tasawuf itu berasal dari kata tasrifan: Tasawwaf-Yatasawwafu-Tasawwufan. Misalnya: Tasawwafar rajulu. Artinya seorang laki-laki sedang bertasawuf.
            Dari segi linguistik (kebahasaan) ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia.[1]
            Kemudian pengertian Tasawwuf secara definitive, banyak sekali dikemukakan oleh para ahli, bahkan Dr. Ibrahim Basyuni dalam bukunya Nas’at Al-Tasawwuf Al-Islam telah memilih empat puluh definisi yang diambil dari pembahasan-pembahasan ahli tasawwuf yang hidup dalam abad ketiga, yaitu antara 200-334 H.
            Pengertian secara istilah dari tasawuf ini bisa dilihat dari beberapa definisi yang disampaikan oleh para ulama diantaranya.

1.  Tasawuf adalah istilah khusus yang dipakai mistisisme dalam Islam. tujuan mistisisme adalah mencari hubungan langsung dengan Allah. Inti sari mistisisme termasuk di dalamnya tasawuf ialah kesadaran terhadap adanya komunikasi dan dialog antara manusia dengan Allah Swt dalam istilah Arab disebut dengan ittihad dan istilah Inggris disebut mystical union. Tasawuf merupakan suatu ilmu pengetahuan dan sebagai ilmu pengetahuan, tasawuf atau sufisme mempelajari cara jalan bagaimana seorang muslim sedekat mungkin dengan Allah Swt.[2]
1.      Tasawuf berasal dari kata suf yaitu wol, yang dimaksud bukanlah wol dalam arti modern, wol yang dipakai oleh orang-orang kaya, tetapi wol primitif dan kasar yang dipakai pada zaman dahulu oleh orang-orang miskin di Timur Tengah. Pada zaman itu pakaian kemewahan adalah sutra. Orang sufi ingin hidup sederhana dan menjauhi hidup keduniawian dan kesenangan jasmani dan untuk itu mereka hidup sebagai orang-orang miskin dengan memakai wol kasar tersebut. Dikatakan bahwa tasawuf datang dari luar dan masuk ke dalam Islam.
2.      Menurut ahli bahasa dan sejarah pada dewasa ini menyatakan bahwa perkataan shufi itu bukanlah dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Yunani lama yang telah dibahasa-Arabkan, yaitu berasal dari kata theosofi, yang artinya adalah ilmu ketuhanan kemudian diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi tasawuf.
3.      Menurut ibn Khaldun, tasawuf adalah semacam ilmu syari’ah yang timbul kemudian di dalam agama. Asalnya adalah tekun beribadah dan memutuskan hubungan dengan segala selain Allah Swt, hanya menghadap Allah Swt semata, menolak hiasan-hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta benda dan kemegahan serta menyendiri menuju jalan Allah dalam khalwat dan ibadah.
4.      Menurut Junaid, tasawuf ialah keluar dari budi, perangai yang terpuji, sedangkan menurut al-Hallaj, yaitu pada waktu ia disalib dan menunggu ajalnya, dan ia berkeyakinan bahwa dirinya dapat bersatu dengan Allah Swt, kemudian datang seseorang yang bertanya kepadanya, “Apakah arti yang sejati dari tasawuf itu?” Darah telah keluar dari tubuh dan matanya, punggungnya telah hangus kena panas hanya menunggu tubuhnya akan dipotong. Pada waktu ia berkata untuk terakhir kalinya, “Tasawuf adalah apa yang engkau lihat dengan matamu ini. Inilah dia tasawuf!” [3]

Sedangkan pengertian-pengertian tasawuf berdasarkan pada pengalaman-pengalaman para ahli tasawwuf yang mempengaruhi perkembangan tasawuf itu sendiri dikelompokkan sebagai berikut:

1. Al-Bidayah

Manusia merasakan dengan fitrahnya bahwa yang wujud itu tidak terbatas dengan hanya yang dilihat, tetapi dibalik itu masih ada wujud yang lebih sempurna yang selalu dirindui oleh ruh manusia. Dan hatinya akan mendapatkan ketenangan sesudah mengenal kepada-Nya. Ia selalu berusaha untuk mendekatkan diri dan ingat kepada-Nya. Dalam waktu yang sama ia merasakan adanya tabir yang memisahkan antara dirinya dengan wujud yang sempurna itu. Tabir pemisah ini sedikit demi sedikit akan hilang setiap ia tekun berpikir mendalami dirinya, dan mengurangi keinginan nafsu dan jasmaninya. Pada saat itu penuhlah hatinya dengan limpahan cahaya (nur) yang membangkitkan perasaan dan kesungguhannya serta membawanya kepada ketenangan jiwa yang sempurna.
            Dalam kelompok Al-Bidayah ini hampir tidak ada perbedaan antara pengalaman dan percobaan yang dialami oleh seorang penganut Budha, Masehi dan pemeluk agama Islam, padahal ajaran agamanya nampak berbeda terutama dalam akidah dan ibadah. Maka jelaslah bahwa perasaan demikian adalah berasal dari fitrah yang sehat yang terdapat dalam diri manusia.
            Definisi yang menyatakan dalam kelompok Al-Bidayah ini antara lain dikemukakan oleh:

i.        Ma’ruf Al-Karkhy (wafat 200 H.), tasawuf adalah mengambil hakikat dan putus asa terhadap apa yang ada di tangan makhluk. Maka siapa yang tidak benar-benar fakir (dengan duniawi), dia tidak benar-benar bertasawuf.
ii.      Abu Turab An-Nakhsaby (wafat 245 H.), sufi adalah yang tidak ada sesuatu pun mengotori dirinya dan dapat membersihkan sesuatu.

1.      Al-Jahidah

Kelompok ini ditinjau dari segi amaliah yang dilaksanakan oleh para ahli tasawuf yang dimulai dengan menghiasi diri dengan sesuatu perbuatan yang diingini oleh agama dan kebiasaan yang mulia.
            Definisi kelompok kedua ini dikemukakan oleh :

i.        Abu Muhammad Al-Jariri, tasawuf adalah memasuki suatu ahlak sunni dan keluar dari semua mahluk rendah.
ii.      Sam nun, tasawuf adalah bahwa engkau tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki sesuatu.

2.      Al-Mudzaqah

Dalam kehidupan tasawuf segala kemauan ditundukkan untuk melarut dalam kehendak Tuhan, dengan jalan rindu (al-isyq) dan intuisi (al-wajd). Segala umur, kegiatan, dan hati dikerahkan sehingga hubungan itu (antara seseorang dengan Tuhannya) lebih kuat dan bersih. Perasaan yang dialami oleh shufi, hubungan yang kuat dan bersih dengan tuhan itu digambarkan dalam definisi sebagai berikut.

i.        Abu Husain al-Muzyu, tasawuf ialah bahwa engkau berserah diri secara bulat kepada yang Haq.
ii.      Al-Junaid, Tasawuf ialah bahwa engkau beserta Allah dengan tanpa penghubung. Tasawuf ialah keluar dari budi pekerti tercela dan masuk kepada budi pekerti terpuji.

            Dengan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Tasawuf ialah kesadaran yang murni (fitrah) yang mengarahkan jiwa yang benar kepada amal dan kegiatan yang sungguh-sungguh menjauhkan diri dari keduniaan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, untuk mendapatkan perasaan berhubungan yang erat dengan wujud Yang Mutlak (Tuhan).
            Selanjutnya kita perhatikan pendapat Hamka:
Tasawuf itu adalah membersihkan diri (jiwa) dari pengaruh benda atau alam supaya dia mudah menuju Tuhan.
            Ibnu Khaldun mengemukakan tasawuf adalah semacam ilmu syari’at yang timbul kemudian didalam agama; asalnya ialah bertekun beribadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah. Hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan duniawi yang selalu memperdaya orang banyak. Demikian juga kelezatan harta benda dan kemegahan, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam berkhalwat dan dalam beribadah.
            Dengan demikian, seorang shufi adalah sebagai yang telah bersih jiwanya dari pengaruh benda atau alam, semata-mata hanyalah untuk Allah. Memilih Allah semata, untuk dirinya.
            Selanjutnya Hamka menggambarkan bahwa tasawuf itu termasuk filsafat Islam yang maksudnya bermula hendak zuhud dari dunia fana, tetapi karena banyaknya bercampur gaul dengan negeri dan bangsa lain, banyak sedikitnya masuk juga pengajian agama dari pihak lain ke dalamnya. Dengan demikian ada di antara ajaran tasawuf yang diizinkan oleh agama, dan ada pula yang tidak diizinkan, dan secara tidak sadar terdapat orang yang tergelincir dari agama Islam. Oleh karena itu seringkali yang menamakan dirinya kaum shufi itu menempuh jalan yang tidak dibolehkan oleh agama, misalnya melarikan diri dari keluarga dan masyarakat, tidak mau lagi mencari rezeki, mengharamkan apa yang diharamkan oleh agama, sehingga dapat melemahkan perjuangan umat Islam itu sendiri.
            Tetapi pada pokoknya pengertian tasawuf dari segi istilah amat bergantung kepada sudut pandang yang digunakan oleh masing-masing ahli. Selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah Swt.[4]
            Selanjutnya jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefiniskan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.[5] Dan jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah (Ke-Tuhanan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.
            Jika tiga definisi tasawuf tersebut di atas satu dan lainnya dihubungkan,maka segera tampak bahwa tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah Swt. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.[6]
            Selanjutnya apabila kita ingin mengetahui tujuan tasawuf, maka kita tidak dapat meninggalkan tujuan dan hubungannya dengan akhlak, karena apabila tasawuf itu dihubungkan dengan akhlak, maka pengaruh tasawuf yang diharapkan adalah agar orang dapat menjadi ikhlash dalam beramal dan berjuang, semata-mata karena Allah Swt tidak karena maksud lain. Sedangkan hal-hal yang harus  diamalkan itu dijelaskan dalam akhlak, baik dalam kehidupan perseorangan, maupun kehidupan bermasyarakat, serta juga jalan yang harus ditempuhnya. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa akhlak itu adalah permulaan tasawuf dan tasawuf itu adalah ujung dari akhlak.
            Apabila kita perhatikan dari urgensinya bagi manusia sebagai makhluk individu dan sekaligus mahluk sosial, maka dengan akhlak manusia akan nampak perbedaannya dengan binatang. Dan dengan tasawuf kerinduan manusia akan kembali kepada Tuhannya tidak terhalang dengan kelezatan duniawi.
            Kemudian apabila kita kaji secara mendalam, maka di dalam tasawuf itu selain terdapat kesopansantunan, terdapat pula unsur-unsur estetika yang menimbulkan seni, dimana puncak keindahan itu adalah cinta. Orang yang tidak dapat dan tidak mempunyai keindahan, tidak pernah mengenal cinta. Tasawuf dengan merenung diri, merenung puncak gunung atau lembah, melihat atau merenung bintang-bintang dilangit, berarti mengkaji keindahan. Namun seringkali manusia tidak dapat mencapai keindahan yang hakiki itu.
            Jelaslah bahwa Ilmu Tasawuf dan Ilmu Akhlak mengatur dan memberi petunjuk tentang peraturan mengenai perbuatan manusia untuk kebahagian hidup di dunia dan di akhirat, serta mendorong mempengaruhi manusia supaya hidup suci manghasilkan kebaikan dan kesempurnaan.
            Dengan demikian maka tasawuf itu dimulai dengan membersihkan diri dan bertujuan untuk mencapai hakikat yang tinggi. Oleh karena Allah itu adalah Nur Yang Maha Suci, maka hamba yang ingin berhubungan dengan Allah harus berusaha melepaskan ruhnya dari lingkungan jasadnya. Untuk melepaskan ruh itu ditempuh dengan jalan riyadah (latihan) yang memakan waktu cukup lama. Riyadlah ini juga bertujuan untuk mengasah ruh supaya tetap suci. Naluri manusia tetap ingin mencapai yang baik dan sempurna dalam  mengarungi kehidupannya. Untuk mencapai hal itu tidaklah cukup hanya dengan ilmu pengetahuam saja, karena ilmu hanyalah produk manusia dan hanya merupakan alat yang pendek, sedangkan jalan menuju hidayah dan kebahagian itu tidak lain hanyalah dengan iman yang kokoh. Perasaan hidup yang aman dan tentram dan yang berdiri di atas cinta kepada Allah Yang Maha Sempurna.
      Selanjutnya untuk mencapai tujuan ahli tasawuf itu para ahli tasawuf selalu menghindarkan diri dari aliran rasionalisme, materialisme dan juga kultus individu. Sebab hal-hal tersebut, dapat menyesatkan, dapat menuju kepada kehidupan semu dan membawa kepada kehinaan di kemudian hari.
       Dalam mengenal Tuhan ahli tasawuf meletakkan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan dengan cara tertentu yang tidak bersifat rasional, namun melalui dasar-dasar teori perasaan hati, lantaran iman dan ilham yang dilimpahkan Allah kedalam jiwanya. Dengan tasawuf juga diharapkan seorang sufi itu lepas dari pengaruh duniawi dan konsentrasinya kepada Dzat Allah Yang Maha Kuasa. Tentu saja cara mengenal Tuhan bagi para ahli kalam akan banyak mempergunakan jalan penyelidikan akal pikiran, sedangkan para ahli fiqh sering mempergunakan keterangan-keterangan dari dalil naqly. Dasar-dasar ini akan dikemukakan pula pada pasal berikut nanti.


[1] Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf. hal. 179-180.
[2] Harun Nasution. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta. Bulan Bintang. 1983.
[3] Hamka. Tasawuf Modern. Jakarta. Yayasan Nurul Islam. 1970.
[4] Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, IAIN Sumatera Utara. Pengantar Ilmu Tasawuf. 1981/1982. hal. 3-4.; dan Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf. hal. 180.
[5] Ibid.
[6] Ibid. hal. 180-181.

Tidak ada komentar: