Rabu, 07 September 2011

Kejadian dan Fitrah Pada Manusia


            Telah diketahui bersama bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik dibandingkan dengan mahluk lainnya. Tetapi manusia bisa menjadi makhluk yang paling rendah derajatnya apabila manusia tidak beriman dan beramal shalih.
            Allah berfirman dalam surat al-Tin ayat 4 dan 5 yang artinya: “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dengan bentuk yang paling baik. Kemudian Kami kembalikan ke tempat yang paling rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

            Susunan tubuh manusia harmonis, keindahan bertambah dengan diberikannya akal, dan ditambah lagi dengan hidayah agama. Namun tidak semua manusia beragama, juga manusia yang beragama tidak semuanya melaksanakan ajaran agamanya dengan baik, karena ia belum menerima hidayah ilahiyah.
            Manusia harus berhati-hati dengan keindahannya itu. Ia bisa jatuh menjadi mahluk yang paling hina apabila rusak budi pekertinya. Ia akan lebih berbahaya daripada binatang buas, dan memang kenyataan lebih banyak kerusakan di atas bumi ini akibat ulah tangan manusia.
            Firman Allah dalam surat al-Rum ayat 41 yang artinya: “Telah terjadi (tampak) kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka setengah dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali.”
            Orang yang akan tetap indah lahir batin, adalah orang yang mau dan mampu bersyukur kepada Allah Swt. Atas nikmat yang diterimanya baik yang berupa materi maupun yang terdapat dalam dirinya sendiri seperti ilmu, tenaga dan kesehatan. Ia akan mampu menggunakan alat pendengarannya, penglihatannya dan hatinya dalam mengabdikan diri kepada pemberinya.
            Allah berfirman dalam surat al-Nahl ayat 78 yang artinya: “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu (waktu itu) kamu tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberi kepadamu alat pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
            Jelaslah bahwa semula manusia sama, tidak tahu apa-apa namun selanjutnya terserah dapat tidaknya manusia mempergunakan alat-alat yang Allah berikan kepadanya.
            Akal manusia yang disertai iman akan dapat melihat, mengenal memahami dan menghayati cahaya Tuhan yaitu ayat-ayat Allah dalam al-Qur’an dan ayat Allah yang terdapat dalam diri manusia dan dalam alam semesta ini. Perbuatannya benar-benar ditujukan hanya untuk mengabdi kepada Allah, melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di atas bumi, sehingga mampu juga mengolah, memanfaatkan dan memelihara alam sekitar yang disediakan Allah bagi manusia. Tentu saja dengan memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku. Ia akan selalu ingat kepada Allah ketika ia berdiri, duduk dan berbaring, dan selalu mau dan mampu memikirkan makhluk Allah Swt.
            Adapun akal manusia yang tidak disertai iman, akan dapat mendorong kepada kejahatan, dapat menimbulkan kerusakan diatas bumi ini, bukan bersyukur namun kufur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
            Pada hakikatnya manusia mengerahkan segala apa yang ada pada dirinya, adalah untuk memenuhi keinginannya, yaitu mempertahankan hidupnya di dunia ini, meskipun disadarinya bahwa hidup ini terbatas, karena semua manusia akan merasakan mati. Lebih dari itu manusia ingin mencapai kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Hidup yang lebih baik ini relatif akan tergantung kepada apa yang merupakan cita-citanya secara pribadi, atau kepribadian bangsanya, atau menurut agama yang dipeluknya. Tentu saja bagi kita umat Islam kehidupan yang lebih baik itu adalah kesenangan di dunia dan di akhirat.
            Seringakli manusia beranggapan bahwa kehidupan yang lebih baik itu adalah kehidupan yang mendapat kekayaan ayng banyak, atau kedudukan yang tinggi dengan lepas dari keridlaan Allah Swt, sehingga ia tidak mampu menggunakan kekayaannya dan kedudukannya sesuai dengan kehendak-Nya. Kadang-kadang untuk mengejarnya, manusia itu menghalalkan segala cara, padahal modal popok tadi akan ditanya nanti di akherat kelak sebagaimana firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 36 yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
            Islam mengajarkan bahwa dalam menggunakan segala apa yang ada pada diri manusia dan segala apa yang telah menjadi miliknya, hendaknya berpedoman kepada agama Allah, sehingga hasil usahanya, baik berupa materi, ilmu, jabatan, kesehatan dan sebagainya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan bagi masyarakat pada umumnya. Dan inilah kehidupan yang lebih baik di sisi Allah Swt.
            Allah berfirman dalam surat al-Rum ayat 30 yang artinya: “Maka hadapkanlah mukamu dengan tulus kepada Allah. (peganglah) fitrah Allah yang telah Allah ciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
            Agama Islam adalah agama fitrah sesuai dengan bakat dan naluri manusia. Islam agama yang benar dan sempurna, di mana semua perintah dan larangan yang tercantum di dalam al-Qur’an dan Hadits, cocok dan berguna bagi manusia. Namun sedikit sekali manusia yang mempergunakan akalnya untuk mengikuti petunjuk tersebut. Jelaslah bahwa fitrah manusai itu beraga Islam, namun lingkunganlah terutama itu bapaknyalah yang menjadikan manusia memeluk agama lain atau malah tidak beragama sama sekali.
            Perhatikan sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Tidaklah seseorang yang dilahirkan itu melainkan berada di dalam kesucian. Maka kedua orang tuanyalah menjadikan anaknya itu Nasrani, Yahudi atau Majusyi.”
            Demikianlah beratnya tanggung jawab orang tua terhadap baik dan buruk sikap dan tingkah lakunya anak. Itulah sebabnya Rasulullah Saw menyuruh anak sejak dini, bahkan diperintah shalat sejak anak berusia tujuh tahun, meskipun belum kena kewajiban terhadap si anak itu.
            Apabila harta dan anak yang seringkali dikatakan sebagai anugerah Allah Swt. Kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, namun apabila orang tua atau suatu keluarga tidak mampu menggunakan hartanya, dan tidak mampu mendidik anaknya, maka nikmat yang Allah berikan itu justru malah menjadi musuh di dunia dan di akhirat nanti.
            Allah berfirman dalam surat al-Anfal ayat 28 yang artinya: “Dan ketahuilah bahwasanya harta bendamu dan anak-anakmu adalah ujian (cobaan). Dan sesungguhnya Allah mempunyai (ada pada-Nya) pahala yang besar.”
            Dalam surat al-Taghabun ayat 14 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hantilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan, berhati lapang dan memberi ampun, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
            Perhatikan pula firman Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya: “Manusia terperdaya mencintai syahwat, perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk-tumpuk dari emas dan perak, binatang-binatang peliharaan dan tanaman-tanaman. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan kepada Allah tempat kembali yang baik.”
            Fitrah manusia lainnya ialah bahwa manusia itu adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial, memerlukan kerjasama dan bantuan orang lain. Pertolongan ini bukan hanya yang bersifat lahiriah saja, namun juga memerlukan tanggapan emosional, memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri, pengakuan dan penghargaan serta kepercayan dari orang lain. Namun sebaliknya dalam mengejar keinginannya itu hendaknya juga memperhatikan keinginan orang lain, sehingga setiap individu terjalin hubungan yang baik, saling menolong dalam kebaikan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Inilah yang dinamakan bahwa kodrat manusia itu adalah sebagai makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial.
            Islam mengajarkan bahwa setiap orang yang beriman adalah saudara, dan hendaknya saling mencintai diantara saudaranya itu. Saling mencintai ini tentu saja didasari dengan iman yang baik dan benar, sehingga kesemuanya merupakan amal shalih. Dengan demikian akan nampak manusia dan masyarakat yang serba selaras yaitu: selaras dalam hubungan dengan Allah Swt selaras dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam sekitarnya, juga akan selaras dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di dunia dan mengejar kebahagian di akhirat.

Tidak ada komentar: