Kamis, 18 Agustus 2011

Bangsawan Terpecah, yang Ikut Belanda Hidupnya Lebih Makmur




Lumajang (Suaranusantara.com)- Bangsawan adalah golongan ningrat yang menempati urutan tertinggi pada masa kerajaan dan diteruskan oleh penjajah Belanda. Golongan ini berasal dari keluarga raja yang dihormati oleh rakyat jelata. Pada masa penjajahan, golongan bangsawan Indonesia menempati urutan strata nomor dua setelah Belanda dan golongan kulit putih lainnya. 
Seiring dengan bergantinya zaman, golongan bangsawan di Indonesia mengalami banyak perubahan sosial. Raden Ayu Koes Dwayati Soegondo (77tahun) warga perumahan Villa Bukit Panderman, kota Batu, adalah sosok nenek keturunan Bangsawan yang pernah hidup pada tiga masa yaitu pada masa pemerintahan Hindia Belanda, masa penjajahan Jepang dan masa RI. Suaranusantara mewawancari beliau melalui ponsel pada hari Rabu (17/08/2011).
Golongan bangsawan oleh Belanda direkrut sebagai pegawai pamong praja pada masa pemerintahan penjajahan Belanda. Sebelum direkrut menjadi pegawai Pamong Praja terlebih dahulu harus bersekolah di sekolah khusus Pamong Praja, disini golongan bangsawan dipersiapkan untuk menjadi pegawai Belanda.

”Seperti yang dialami oleh kakek dan ayah saya sebelum menjadi Bupati terlebih dahulu magang dan mendapatkan jabatan yang rendah seperti mantri polisi baru nanti naik sedikit demi sedikit,” ungkap wanita yang memiliki panggilan akrab Bu Ayu ini.

Ketika Belanda menyerah tanpa syarat kepada sekutu, penguasa di Indonesia secara otomatis digantikan pada oleh Jepang. Golongan bangsawan pun masih dipercaya oleh Jepang untuk menjadi pegawai pemerintahan.

”Golongan Bangsawan tetap saja menjadi pegawai, akan tetapi ada perbedaannya yaitu Jepang melarang penyebutan ndoro untuk golongan bangsawan mereka Cuma dipanggil pak atau bu saja” papar Wanita yang pernah kuliah di UGM ini.

Pada masa pendudukan Jepang ada sedikit perubahan dalam bidang kepegawaian yaitu dengan ditambahnya pegawai wanita di kantor-kantor pemerintah. Pegawai wanita tampaknya masih dibatasi pada masa penjajahan Belanda.

Pada waktu Belanda datang kembali dan kemudian melakukan Agresi Milliter, golongan bangsawan ini pecah menjadi dua, yaitu ada yang berpihak kepada Belanda dan ada yang lebih memilih ikut Republik.

”Ayah saya lebih memilih ikut Republik, karena merasa orang Jawa dan bagian dari Indonesia”. Ungkap wanita yang pernah menjadi anggota DPRD Riau.

R.A. Koes Dwayati dan keluarga waktu terjadi Agresi Milliter ikut mengungsi dan bergabung dengan pejuang gerilyawan RI. Bahkan ayahnya, Raden Mas Panji Diro Soegondo bertugas menterjemahkan siaran berita dari Australia dan Belanda untuk kepentingan perjuangan pasukan gerilya. Bangsawan yang memilih ikut Belanda dengan alasan  ekonomi oleh rakyat dianggap penjilat yang menjual bangsanya sendiri.

Pasca kemerdekaan RI, bangsawan yang ikut Belanda tetap mendapatkan pensiunan dalam bentuk gulden dan hidupnya tetap makmur walaupun tinggalnya di Indonesia.  Sedangkan bagi bangsawan yang bergabung dalam RI dijadikan pegawai Republik Indonesia dengan tunjangan yang lebih kecil. (lut/sur)

Tidak ada komentar: